Jaringan Transmisi Listrik Interkoneksi Sumsel – Lampung Terganjal Lahan HGU PT. SGC

Jaringan Transmisi Listrik Interkoneksi Sumsel – Lampung Terganjal Lahan HGU PT. SGC

1194
0
BERBAGI

BANDARLAMPUNG, Lensalampung.com – Rencana PT PLN (Persero) membangun jaringan transmisi listrik interkoneksi Sumatera Selatan – Lampung terkendala ketersedian lahan dan jarak aman penerbangan dari Pangkalan Udara (Lanud) Astra Kestra (ATK), Menggala, Tulangbawang.

Muhamamad Riza, Manager Hukum dan Pertanahan (HKP) menjelaskan, PT.PLN Sumbagsel berniat membangun jaringan transmisi listrik yang menghubungkan Sumatera Selatan dan Lampung. PLN akan membangun 686 unit saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 150 KV itu, tersebar di Seputihbanyak, Menggala, Bukitkemuning, Liwa, Gumawang Mesuji.

Pembangunan jaringan tersebut akan melintasi lahan tiga perusahaan perkebunan yakni, PT Sugar Grup Company, PT Gunung Madu Plantations dan PT Great Giant Pineapple. Untuk rencana awalnya, kata Riza akan membelah lahan perkebunan, namun rencana ini urung dilaksanakan menyusul kerugian hingga mencapai puluhan miliar per tahunnya perusahaan.

“Sebagai contoh PT.Sugar Grup Company mengklaim akan terjadi kerugian Rp. 63 miliar per tahunnya, jika rencana pembangunan sutet membelah lahan perkebunan perusahaan gula tersebut,”jelasnya.

Sebagai alternatifnya, ketiga perkebunan menyediakan lahan di luar lokasi kebun. Nantinya rangkaian SUTET tersebut akan tidak memotong lahan perkebunan, melainkan melintasi pinggiran kebun. Sayangnya opsi ini kembali mentok, lantaran sebagian SUTET berada di parameter jalur lepas landas Lanud) Astra Kestra (ATK), Menggala.

Area rencana pembangunan SUTET berbenturan dengan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Lanud ATK. Sebab jika mengacu kepada Protab No 6/II/2015 mengenai kawasan dalam Militer Training Area. Batas wilayah latihan terbang Militer dari Lanud ATK sesuai aturan nasional berjarak 15 kilometer.

Selanjutnya Dalam pasal 210 UU RI  Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan dinyatakan bahwa setiap orang dilarang berada di daerah tertentu di bandar udara membuat halangan dan atau melakukan kegiatan lain di kawasan keselamatan operasi penerbangan yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan, kecuali memperoleh izin dari otoritas bandar udara.

Opsi lain adalah penggunaan kabel bawah tanah (underground), namun jika dilaksanakan investasi pembangunan jaringan kelistrikan ini akan membengkak menjadi Rp300 miliar lebih dari nilai awalnya yang hanya sekitar Rp80 miliar.

Saat ini kata Riza, pihaknya masih menimbang ketiga opsi pembangunan transmisi listrik tersebut. Menurutnya untuk kepastiannya pihaknya masih memerlukan diskusi lebih lanjut secara internat, termasuk menjalin komunikasi dengan pusat. Dalam waktu dekat, kata Riza PLN Sumbagsel dan Lampung akan kembali berkoordinasi dengan perusahanan perkebunan dan pemerintah daerah setempat.

“Seluruh opsi ini kami kaji. Kemungkinan akan ada pertemuan lanjutan. Tinggal kapan secepatnya,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Provinsi Lampung, Piterdono mengatakan semua pihak pada prinsipnya setuju adanya pembangunan transmisi untuk menyediakan listrik bagi masyarakat.

Bahkan Pemprov sudah menerbitkan SK Gubernur Lampung pada DIRUT PLN tertanggal 26 JULI 2016 berkenaan penyampaian hasil pertemuan Pem. Provinsi Lampung, PT PLN, Pimpinan Ombudsman RI menegaskan kembali kesepakatan melaksanakan jaringan SUTT 150 Kv melalui jalur lingkar luar, dengan kata lain tidak melintasi wilayah perkebunan.

“Yang jelas perlu diperbandingkan antara biaya yang harus dikeluarkan oleh PLN antara perpindahan dan model jaringan transmisi dengan kerugian yang ditanggung oleh 3 perusahaan perkebunan. Kami ingin pembangunan rangkaian SUTET ini menguntungkan semua pihak, tidak ada yang dirugikan,” tutupnya. (Ist)

TIDAK ADA KOMENTAR