Pemkab Tubaba Adakan Sarasehan Sharing Time Megalithic Millenium Art Tubaba

Pemkab Tubaba Adakan Sarasehan Sharing Time Megalithic Millenium Art Tubaba

156
0
BERBAGI

Tubaba.Lensalampung.com, – Dalam Rangka Acara Sharing Time: Megalithic Millenium Art Yang Diadakan Pemerintah Kabupaten Tubaba Terdapat Juga Kegiatan Sarasehan.

Acara sarasehan tersebut digelar di rumah adat Sesat Agung Bumi Gayow Ragem Sai Mangi Wawai,Kelurahan Panaragan Jaya,Kecamatan Tulang Bawang Tengah (TBT),Kabupaten Tubaba,Kamis (23/1/2020).

IMG-20200123-WA0085

Foto, suasana santai dalam agenda sarasehan

Diketahui Sarasehan adalah bentuk pertemuan yang dihadiri oleh sekelompok undangan tertentu untuk membicarakan suatu permasalahan dengan cara yang tidak resmi dan suasana yang rileks. Sarasehan tersebut pada hakikatnya komunikasi timbal-balik atau interaksi antara dua orang atau lebih dalam suatu forum atau majelis.

Tiga saresehan yang dibahas yaitu; ‘Tubuh untuk Ritus dan Situs’ dibahas oleh Dr. Hj. Een Herdiani (Rektor ISBI- Bandung), ‘Membaca Tonggak Moyang: puja,bahasa peradaban,dan memori sosial’ oleh Dr.Halilintar Lathief (Makassar,Sulawesi),dan ‘Seni Megalitik: suatu dialog antara manusia dan saujana alam untuk masa depan’ yang di sharing oleh Dr.Diane Butler (Dharma Nature Time,Bali).

IMG-20200123-WA0086

Foto, Bupati Tubaba Umar Ahmad bersama tamu kehormatan dari USA Margit Galanter

Selanjutnya Sarasehan,’Berdialog antara Seni Megalitik dan Neo-Megalitik’ oleh Transpiosa Riomandha (antropolog, Yogyakarta),Little-known Stones from Around The World Twenty Years of The Megalithic Portal’oleh Andy Burnham (UK,secara online),dan Sarasehan tentang ‘Budaya Masyarakat Digital’ oleh Daniel Oscar Baskoro (Researcher at Columbia University, New York).

Dan disela-sela Sarasehan H.Umar Ahmad,SP.Bupati Tubaba, juga membagikan tanaman kepada beberapa tamu Sarasehan Sharing Time: Megalithic Millennium Art / Seni Megalitik Milenium di Tubaba,”Untuk ditanam demi kelestarian alam sebagai penyedia oksigen,karena bumi kita sudah sangat panas satu-satunya cara ya kita menanam pohon. Dengan acara ini saya kira kita meletakkan tanda bagaimana hubungan manusia dan alam ini yang perlu kita sadarkan,jangan sampai kita mengira penciptaan bumi ini hanya untuk manusia saja itu salah.”Kata Umar Ahmad.

Sementara Margit Galanter asal California USA mengatakan,dirinya juga sangat senang bisa berjumpa di Tubaba untuk menyatukan ide-ide.”Disini saya senang sekali bisa bertemu dengan banyak orang karena acaranya sangat bagus,dari berbagai negara kumpul disini menyatukan ide-ide rentang Megalithicum masa depan di Tubaba.”Ujar Margit Galanter melalui translatornya.

IMG-20200123-WA0084

Selanjutnya,saya disini berdasarkan usulan bapak Suryo Darmo (alm) sebagai sebagai seorang seni itu sangat berjasa sekali,untuk event internasional seperti ini.”Tidak seperti di Amerika, yang menghubungkan tuhan, alam, lingkungan sudah hampir tidak ada berbagai dengan di Indonesia khususnya di Tubaba masih banyak sekali kolerasi alam budaya yang bisa dilestarikan kedepannya lebih baik lagi, jadi sharing ini sangat bermanfaat sekali bagi kita untuk kemajuan Tubaba kedepan lebih baik lagi.”Pungkasnya. (DD). (Adv).

TIDAK ADA KOMENTAR