Sepakbola

Super League 2025-2026: Pelatih Persebaya Bernardo Tavares Klaim Timnya Harusnya Dapat Tiga Penalti Lawan Persijap

Advertisement

Persebaya Surabaya menelan kekalahan 1-3 dari tuan rumah Persijap Jepara dalam laga pekan ke-22 Super League 2025-2026. Pertandingan yang berlangsung pada Sabtu (21/2/2026) malam WIB di Stadion Gelora Bumi Kartini tersebut memicu kekecewaan mendalam dari pelatih kepala Persebaya, Bernardo Tavares.

Kekalahan ini membuat posisi tim berjuluk Bajul Ijo tersebut semakin tertinggal di peringkat kelima klasemen sementara dengan raihan 35 poin, di bawah tim-tim papan atas seperti Persija Jakarta.

Kekalahan Persebaya dan Sorotan Kinerja Tim

Dalam pertandingan tersebut, Persijap Jepara tampil klinis dengan mengandalkan skema bola mati dan serangan balik cepat. Iker Guarrotxena menjadi bintang bagi Persijap dengan torehan dua gol, ditambah satu gol dari Alexis Gomes. Sementara itu, Persebaya Surabaya hanya mampu membalas satu gol hiburan melalui penalti Bruno Moreira.

Bernardo Tavares mengakui adanya kekurangan dalam transisi dan keseimbangan pertahanan timnya. “Tentang pertandingan. Jadi, kami memiliki dua atau tiga peluang di babak pertama. Kami kurang bagus dalam transisi pertahanan, dan juga keseimbangan pertahanan, dan mereka mencetak gol dalam serangan balik,” kata Tavares.

Pelatih asal Portugal itu juga menyesalkan kegagalan pemainnya dalam mengawal duel satu lawan satu. “Pada momen kami harus bertahan dari situasi lemparan ke dalam lawan. Kami membiarkan pemain nomor 32 merebut bola di antara tiga pemain dan menembak ke gawang. Situasi yang sulit,” lanjut Tavares, menyoroti gol pertama Persijap di babak kedua.

Kritik Keras Terhadap Wasit Yoko Suprianto dan VAR

Puncak kekesalan Tavares tertuju pada wasit Yoko Suprianto dan penggunaan teknologi asisten video wasit (VAR). Ia mengeklaim bahwa timnya seharusnya mendapatkan tiga hadiah penalti, namun semua diabaikan.

“Dan membuat skor menjadi 2-0. Setelah itu kami mendapat kartu merah. Kartu merah adalah sesuatu yang saya tidak tahu apakah itu kartu merah atau bukan,” ungkap Tavares. “Saya perlu melihat videonya. Yang saya tahu adalah bahwa di babak pertama seharusnya penalti.”

Advertisement

Tavares bahkan membandingkan standar wasit Indonesia dengan kompetisi di luar negeri. “Dan saya tidak tahu mengapa semua ini begitu lucu bagi Indonesia. Di China, Inggris, itu penalti,” tegas Bernardo Tavares. “Juga situasi di mana kami seharusnya mendapat tiga penalti dalam pertandingan. VAR tidak mau melihat ini. VAR seharusnya bertaruh apakah penalti itu diberikan, penalti pertama, dan di babak kedua. Saya sudah melihat pemainnya dengan lengan seperti itu,” imbuhnya.

Rekor Kartu Merah dan Kontrol Emosi Pemain

Masalah kontrol emosi juga menjadi sorotan tajam. Kartu merah yang diterima Rachmat Irianto dalam laga melawan Persijap membuat catatan kartu merah tim musim ini menyentuh angka tujuh. Tavares pun meminta anak asuhnya untuk lebih bertanggung jawab di lapangan.

“Dan setelah keputusan bukan penalti, saya merasa kami kurang baik dalam mengontrol emosi karena kami berharap mendapat penalti dan setelah itu sulit untuk mengendalikan emosi,” ujar Tavares. Ia membandingkan kedisiplinan timnya saat ini dengan pengalaman masa lalunya.

“Kita perlu lebih baik dalam mengendalikan emosi karena aku baru saja berada di sini untuk pertandingan melawan Persebaya. Jadi ini kartu merah pertama selama jadi pelatih di Persebaya, tapi sebelumnya tim ini sudah punya enam. Jadi saat ini sudah dapat tujuh kartu merah,” jelasnya. “Terlalu banyak. Sebagai contoh musim lalu, saya rasa di PSM hanya mendapat satu kartu merah di tim Indonesia ini,” tambahnya.

Informasi lengkap mengenai kekecewaan pelatih Bernardo Tavares ini disampaikan melalui sesi konferensi pers pasca-pertandingan yang digelar pada Sabtu, 21 Februari 2026.

Advertisement