Mantan pelatih AC Milan, Paulo Fonseca, mengungkapkan rasa penyesalannya atas singkatnya masa jabatan di klub raksasa Italia tersebut. Ia merasa pantas mendapatkan waktu lebih banyak untuk menerapkan filosofi permainannya, meskipun hanya bertahan selama 24 pertandingan.
Perjalanan Singkat di San Siro
Paulo Fonseca, pelatih asal Portugal, datang ke AC Milan pada musim panas 2024 sebagai pengganti Stefano Pioli. Namun, perjalanannya di kursi kepelatihan Rossoneri berakhir prematur setelah pertandingan terakhir tahun itu melawan AS Roma. Selama masa kepelatihannya, Fonseca hanya memimpin AC Milan dalam 24 pertandingan, mencatatkan 12 kemenangan dan enam kekalahan.
Saat Fonseca meninggalkan Milan, klub tersebut berada di peringkat kedelapan Liga Italia dengan perolehan 27 poin. “Saya layak mendapatkan lebih banyak waktu. Milan adalah klub luar biasa dan saya sangat menikmatinya,” kata Fonseca kepada The Athletic.
Tantangan Perubahan Filosofi Bermain
Fonseca menjelaskan bahwa salah satu alasan di balik masa jabatannya yang singkat adalah proposal klub untuk mengubah filosofi bermain menjadi lebih ekspansif. Menurutnya, mengubah sesuatu yang telah ada selama bertahun-tahun bukanlah tugas yang mudah, terutama di Italia.
“Mengubah sesuatu yang telah ada selama bertahun-tahun tidaklah mudah; Anda memerlukan waktu, terutama di Italia, di mana tugas tersebut bahkan lebih sulit, hampir mustahil,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa timnya telah memainkan beberapa pertandingan luar biasa dan menyajikan sepak bola yang lebih atraktif, meskipun mengakui perlunya konsistensi lebih.
Setelah kepergian Fonseca, ia digantikan oleh rekan senegaranya, Sergio Conceiçao. Namun, di bawah kepemimpinan Conceiçao, Rossoneri gagal lolos ke kancah antarklub Eropa dan harus tumbang di final Coppa Italia melawan Bologna.
Perkembangan Karier Pasca-Milan
Sebelum melatih AC Milan, Fonseca juga pernah menukangi AS Roma di Serie A. Pengalamannya di liga top Italia tersebut diakuinya telah membuatnya berkembang sebagai pelatih, terutama dalam aspek pertahanan.
“Saya sekarang lebih baik dalam bertahan, karena saya belajar banyak di Italia,” ungkap Fonseca. Ia juga menambahkan bahwa di Ukraina, ia banyak belajar bagaimana bermain di 30 meter terakhir lapangan, sebuah skenario yang sering ia hadapi dan dianggapnya sebagai hal tersulit dalam sepak bola.
Saat ini, Paulo Fonseca menjabat sebagai pelatih tim Ligue 1 Lyon. Klub yang diasuhnya tersebut kini berada di peringkat ketiga klasemen, terpaut tujuh poin dari pemuncak klasemen, Lens.
Informasi lengkap mengenai pernyataan Paulo Fonseca ini disampaikan melalui wawancara eksklusif dengan The Athletic yang kemudian dirilis ulang oleh KOMPAS.com.
