Dua penggawa Persija Jakarta, Alaaeddine Ajaraie dan Shayne Pattynama, membagikan pengalaman mereka menjalani ibadah puasa Ramadhan 1447 H untuk kali pertama di Indonesia. Momen ini menjadi istimewa bagi keduanya, baik sebagai seorang muslim yang berpuasa maupun sebagai individu yang menghargai nilai-nilai toleransi.
Alaaeddine Ajaraie: Ramadhan Lebih Nyaman di Negara Mayoritas Muslim
Penyerang Persija Jakarta, Alaaeddine Ajaraie, merasakan Ramadhan pertamanya di Indonesia dengan penuh sukacita. Sebagai seorang muslim, pemain berusia 33 tahun ini mengaku sangat senang berada di negara dengan mayoritas penduduk muslim, yang menurutnya memudahkan dalam beribadah.
“Ya saya sangat senang karena saya berada di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Itu membuat saya bahagia dan lebih nyaman bagi saya dan keluarga tinggal di sini. Alhamdulillah,” ujar Alaaeddine dalam konferensi pers pasca-pertandingan Persija Jakarta vs PSM Makassar di Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Alaaeddine juga bersyukur karena jadwal pertandingan Super League selama Ramadhan digelar pada malam hari. Hal ini berbeda dengan pengalamannya saat berkarier di India bersama NorthEast United, di mana ia sering bermain sebelum waktu Maghrib.
Meski berpuasa, Alaaeddine tetap berusaha menjaga profesionalitasnya sebagai pesepak bola. Ia bahkan merasa mendapatkan kekuatan lebih saat bertanding di bulan suci ini. “Saya rasa ini suatu hal yang normal bagi saya yang seorang muslim dan saya telah memainkan banyak pertandingan selama Ramadhan. Saya justru merasa sebelumnya berjalan lebih sulit karena saya bermain sebelum waktu Maghrib. Jadi, ini tak masalah buat saya. Saya pikir Allah memberi kita kekuatan lebih di bulan Ramadhan,” ungkapnya.
Shayne Pattynama: Makna Toleransi dan Disiplin Ramadhan
Pengalaman Ramadhan pertama di Indonesia juga dirasakan oleh rekan setim Alaaeddine, Shayne Pattynama. Meski berbeda keyakinan, Shayne menemukan makna positif di balik bulan suci ini. Ia menilai Ramadhan memberi contoh nyata bagaimana Islam mengajarkan rasa hormat, toleransi, dan disiplin.
Shayne mengaku sudah akrab dengan bulan puasa, bahkan sebelum datang ke Indonesia, karena banyak teman-temannya di Eropa yang beragama Islam. “Ya, tentu saja. Banyak teman saya yang beragama Islam dan mereka tetap berlatih serta beraktivitas selama Ramadhan. Sebelum ke Indonesia, saya juga sudah cukup terbiasa melihat dan memahami Ramadhan,” kata Shayne dalam acara FC Mobile Ngabuburit 2026 di Jakarta, Sabtu (21/2/2026).
Rasa ingin tahu bahkan mendorong Shayne untuk mencoba berpuasa. Ia kagum terhadap rekan-rekannya yang tetap menjalankan ibadah puasa di tengah tuntutan fisik sebagai atlet. “Saya bahkan pernah mencoba berpuasa. Saya sangat menghormati semua orang yang menjalankannya karena itu tidak mudah, terutama bagi atlet,” ucap Shayne.
Ia menambahkan, “Namun niat dan makna di balik puasa itu sangat indah. Ramadhan terasa seperti sebuah perayaan dan sesuatu yang dilakukan dengan penuh makna. Puasa bisa berlangsung sekitar 12 jam, dan itu jelas tidak mudah, apalagi bagi atlet. Saya selalu kagum dengan disiplin dan komitmen mereka, terlebih cuaca di sini cukup panas.”
Mantan penggawa Buriram United ini sangat menikmati suasana Ramadhan di Indonesia yang menurutnya lebih berkesan karena menyentuh seluruh aspek kehidupan. “Di Indonesia, lebih banyak orang yang menjalankan Ramadhan karena mayoritas penduduknya muslim. Suasana Ramadhan di sini terasa lebih kuat dan lebih hidup,” jelasnya.
“Menurut saya, Ramadhan adalah bulan suci yang justru bisa menjadi motivasi tambahan bagi pemain yang menjalaninya dengan penuh keyakinan. Itu perspektif yang sangat menarik dan positif,” terangnya.
Informasi lengkap mengenai pengalaman Ramadhan kedua pemain ini disampaikan melalui pernyataan resmi mereka dalam berbagai kesempatan publik pada Februari 2026.
