Maroko tengah menjadi sorotan internasional setelah dituduh melakukan pembantaian massal terhadap anjing liar menjelang gelaran Piala Dunia FIFA 2030. Koalisi Internasional untuk Kesejahteraan dan Perlindungan Hewan (IAWPC) memimpin investigasi gabungan dan kampanye advokasi, menuduh ratusan ribu anjing dibunuh setiap tahunnya.
Mereka memperingatkan bahwa masih ada tiga juta anjing yang berpotensi menjadi korban “pembantaian massal” berikutnya. Aktor peraih nominasi Oscar dan aktivis, Mark Ruffalo, secara tegas menentang aksi tersebut, menyebutnya sebagai “kegagalan moral”.
Dugaan Pembantaian Massal Anjing Liar
Investigasi oleh The Athletic bulan lalu mengungkap sebuah rumah jagal di Marrakech yang diduga digunakan untuk memproses anjing-anjing tangkapan tanpa pengawasan publik. Saksi mata menyebut hewan-hewan itu dijerat dan dijepit, lalu diangkut ke penampungan.
Sebagian anjing diduga ditembak, diracun, atau dibiarkan kelaparan, sementara lainnya dijejalkan ke kandang sempit tanpa cahaya dan ventilasi. IAWPC telah menyusun laporan setebal 91 halaman yang berisi bukti foto dan kesaksian tentang praktik kejam tersebut.
Sorotan Aktivis dan Pernyataan Mark Ruffalo
Mark Ruffalo menyuarakan keprihatinannya melalui unggahan di X. “Membunuh jutaan anjing untuk persiapan acara olahraga global bukanlah kemajuan, melainkan kegagalan moral,” tulis Ruffalo.
Ia menambahkan, “Solusi yang manusiawi itu ada, dan memilih belas kasih daripada kekerasan adalah tanggung jawab yang kita semua pikul.” Pernyataan ini menegaskan desakan untuk mencari pendekatan yang lebih etis dalam menangani populasi anjing liar.
Peningkatan Pembunuhan Pasca Penunjukan Tuan Rumah Piala Dunia 2030
IAWPC menilai bahwa pembunuhan anjing meningkat drastis sejak Maroko ditetapkan pada 2023 sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2030 dengan Spanyol dan Portugal. Aktivis memperkirakan sekitar 300.000 hewan dibunuh tiap tahun sebelum pengumuman tersebut, dan jumlahnya terus bertambah.
“Setelah (pengumuman penunjukkan Piala Dunia 2030), pembunuhan anjing meningkat drastis,” kata IAWPC dalam laporannya. “Akibatnya, kekhawatiran muncul bahwa Maroko akan melanjutkan rencana mereka untuk pembantaian massal 3 juta anjing.”
Metode yang diklaim IAWPC mencakup keracunan dengan strychnine, baik melalui penyuntikan langsung ke anjing atau melalui pencampuran dengan makanan. IAWPC juga menuduh senapan dan pistol digunakan untuk menembak anjing oleh para pria bersenjata yang berpatroli di jalanan.
“Anjing-anjing itu dibiarkan mati kehabisan darah, seringkali meronta-ronta dan menjerit kesakitan,” demikian tertulis dalam petisi tersebut. “Tubuh mereka sering dibiarkan membusuk di tempat mereka jatuh. Anjing-anjing juga diburu dan dijebak dengan alat penjepit ala abad pertengahan lalu dilemparkan ke bagian belakang truk bersama anjing-anjing lain yang ketakutan.”
“Anjing-anjing ini dibawa untuk dibunuh di ‘klinik palsu’. Mereka dibakar di insinerator atau dibawa dan dibuang di kuburan massal. Tidak semua anjing mati saat dibuang.”
Bantahan Pemerintah Maroko dan Respons FIFA
Pemerintah Maroko membantah keras tuduhan pembantaian massal anjing liar tersebut. “Sama sekali tidak benar bahwa Maroko berencana untuk membasmi anjing liar menjelang Piala Dunia FIFA 2030,” kata seorang juru bicara menanggapi laporan tahun lalu.
Sementara itu, FIFA menyatakan pihaknya bekerja sama dengan IAWPC untuk menyampaikan rekomendasi tentang kesejahteraan hewan kepada pihak berwenang Maroko. “Dengan selesainya proses penawaran, FIFA sedang menindaklanjuti dengan mitra lokalnya dengan tujuan untuk memastikan komitmen ditegakkan,” kata juru bicara FIFA kepada publikasi tersebut.
Informasi lengkap mengenai isu ini disampaikan melalui laporan investigasi Koalisi Internasional untuk Kesejahteraan dan Perlindungan Hewan (IAWPC) dan pernyataan resmi pihak terkait.
